Sering nyeri kepala, kenapa ya??

Sering nyeri kepala, kenapa ya??

23 June 2020

Berdasarkan International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan (tissue damage). Rasa nyeri dapat muncul karena adanya kerusakan jaringan atau potensi kerusakan jaringan. Kerusakan jaringan dan potensi kerusakan jaringan tersebut akan mengaktivasi reseptor nyeri (nosiseptor). Reseptor nosiseptif ini tersebar di tubuh dan dapat ditemukan di kulit, jaringan penunjang, pembuluh darah, periosteum, dan organ-organ dalam lainnya.

Nyeri kepala merupakan sensasi tidak nyaman pada daerah kepala yang disebabkan oleh keruskan atau potensi kerusakan. Area yang dimaksud meliputi intrakranial dan ekstrakranial, termasuk wajah. Nyeri kepala primer merupakan nyeri kepala yang sebabnya bukan merupakan kelainan pada struktural intrakranial. Nyeri sekunder merupakan gejala dari proses organik. Pada pemeriksaan pasien, nyeri kepala sekunder harus disingkirkan lebih dahulu untuk nantinya mendapatkan tatalaksana khusus sesuai kelainan struktural.

Nyeri kepala primer biasanya berbentuk nyeri yang berulang dengan pola tertentu, ada pemicunya, dan diantara serangan biasanya tidak muncul gejala sama sekali. Nyeri kepala sekunder biasanya nyeri muncul di waktu yang sangat berdekatan disertai dengan gejala atau penyebab lain. Selain itu, suatu nyeri kepala diwaspadai merupakan nyeri sekunder jika nyeri muncul pertama kali yang belum pernah dirasakan atau baru muncul berulang saat usia lebih dari 40 tahun.

Tanda bahaya nyeri kepala dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan antara lain :

  • Pertama kali dirasakan dan sangat parah (thunderclap headache)
  • Pertama kali di usia diatas 50 tahun
  • Nyeri dengan peningkatan frekuensi dan tingkat keparahan
  • Nyeri kepala kronik sehari hari yang tidak membaik dengan terapi
  • Selalu terjadi di satu sisi
  • Muncul setelah trauma kepala
  • Disertai penyakit sistemik (demam, kaku kuduk, ruam kulit)
  • Berhubungan dengan kejang dan adanha aura atipikal
  • Dengan defisit neurologis
  • Onset baru pada pasien imunodefisiensi atau kanker
  • Nyeri dicetuskan dengan adanya perubahan posisi, aktivitas, dan peregangan

Selanjutnya kita akan berbicara tentang nyeri kepala primer.

Apa saja nyeri kepala primer tersebut?

  1. Nyeri kepala tipe tegang atau Tension-type Headache (TTH)

Tension type headache (TTH) sering disebut dengan sindrom nyeri kepala kronik, psychogenic headache, atau stress headache. TTH merupakan kasus nyeri kepala yang umum ditemui di pelayanan kesehatan primer, dengan prevalensi di populasi umum berkisar 30% hingga 78%.

TTH dicirikan dengan rasa tidak nyaman, seperti diikat pita/tali erat di kedua sisi kepala,  bersifat menyebar dengan nyeri yang bertambah perlahan keparahannya. TTH dapat bertahan selama 30 menit hingga beberapa hari (1 minggu), dan dapat episodik atau kronik (>15 hari per bulan). Lokasi nyeri awalnya dirasakan di leher bagian belakang yang kemudian menjalar ke kepala bagian belakang dan ke depan. TTH biasanya tidak disertai gejala seperti mual, muntah, fotofobia, fonofobia, osmofobia, berdebar-debar, atau gejala yang bertambah dengan aktivitas.

  1. Migren

Migren menimbulkan gejala sakit di satu sisi kepala, nyeri yang dirasakan berdenyut, pasien juga merasakan sensitif terhadap cahaya, suara dan terkandang bau dan sentuhan. Gejala juga bisa disertai mual dan muntah. Migrain biasanya berlangsung selama 4 hingga 72 jam jika tidak diobati. Seberapa sering migrain terjadi bervariasi dari orang ke orang. Migrain bisa jarang terjadi namun bisa juga sering terjadi misal beberapa kali dalam sebulan. Pada migren dapat diawali dengan gejala prodromal (gejala awal-awal). Beberapa gejala prodromal yang mengawali terjadinya migren adalah fatigue (rasa lelah), rasa haus, anoreksia (tidak nafsu makan), retensi cairan, food craving, gejala gastrointestinal, gangguan mood dan emosi seperti iritabilitas, depresi, dll. Selain gejala prodromal, migren juga dapat didahului dengan munculnya aura berupa gangguan penglihatan. Aura yang mendahului migren juga dapat melibatkan sensorik, motoric, atau bahkan jaras korteks yang lebih tinggi seperti bicara dan berbahasa. Aura tersebut biasanya akan muncul perlahan hingga 20 menit dan akan menghilang dalam 1 jam, serta aura dapat menyebar ke area daerah tubuh yang berbeda.

  1. Nyeri kepala tipe klaster/ Cluster Headache (CH)

Nyeri kepala tipe klaster ialah nyeri kepala paling sering pada Trigeminal autonomic cephalalgia (TAC). Nyeri kepala ini merupakan nyeri kepala hebat di tempat tertentu, yaitu orbita, supraorbital, temporal, atau kombinasi yang disertai gejala otonom. Nyeri kepala tipe klaster ini berlangsung secara periodik yaitu sekali setiap 2 hari sampai 8 kali per hari dengan durasi 15-180 menit. Prevalensi nyeri kepala tipe klaster sangat jarang, hanya kurang dari 1%. Lebih banyak ditemukan pada usia lebih dari 30 tahun dan laki-laki dibandingkan wanita, yaitu 6:1 rasio  antar keduanya. Faktor risiko lainnya yaitu konsumsi vasodilator seperti alkohol, trauma, operasi kepala, merokok, dan adanya stressor.

https://4.bp.blogspot.com/_6Msn1gRLzmw/S7r3f-gEeCI/AAAAAAAAAGU/HsEmIoTa2g0/s1600/MigrainFixed2.gif

Dari gambar di atas, dapat kita ketahui tipe-tipe nyeri kepala. Pada gambar menjelaskan  lokasi-lokasi spesifik diamana sering terjadinya nyeri kepala dan jenis nyerinya.

Pengobatan

Prinsip penanganan pada pasien dengan penyakit kepala primer ialah terapi abortif, spesifik dan profilaksis. Terapi abortif ialah terapi awal yang diberikan unutk meredakan nyeri kepala dengan segera atau secepat mungkin. Terapi spesifik ialah terapi lanjutan dengan obat-obat pereda nyeri yang lebih spesifik bekerja pada saraf. Selanjutnya profilaksis ialah pengobatan yang diberikan kepada pasien-pasien dengan riwayat sakit kepala lama dan tidak sembuh maka dibantu dengan obat-obatan profilaksis.

Obat-obatan yang diberikan harus sesuai resep dokter, untuk gejala yang ringan, Anda dapat memilih obat paracetamol 1000mg untuk 3 kali selama 3 hari. Jika berlanjut hubungin dokter.

Sumber :

  1. Aninditha T, Rasyid A. Nyeri kepala. In: Aninditha T, Wiratman W (eds). Buku Ajar Neurologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017. Ch 34. p. 569-96.
  2. Hauser SL, Josephson SA. Harrison’s neurology in clinical medicine. 4th ed. USA: McGraw-Hill; 2016 Jones RH, Srinivasan J, Allam GJ, Baker RA. Netter’s neurology. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2012.
  3. International classification of heacache disorders. 3rd ed. International Headache Sociaty; 2013.
  4. Goadsby P, Raskin N. Chapter 34: Migraine and other primary headache disorders. In: Hauser S, Josephson S. Harrison’s neurology in clinical medicine. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2017. p386.

Edittor :

Dr. Erwan Wijaya P. S.Ps

Dr. Fenti Erlianti

Jadwal Dokter RS Permata Bekasi


Varises tungkai, apakah bisa dicegah?

09 July 2020

Varises tungkai merupakan pelebaran pembuluh darah balik (vena) di tungkai yang disebabkan oleh adanya penumpukan darah di dalam pembuluh tersebut. Pembuluh darah vena berfungsi untuk mengalirkan darah dari seluruh tubuh ke jantung. Pembuluh ini memiliki katup satu arah yang bekerja mencegah kembalinya darah ke tempat yang sudah dilewatinya (reflux). Apabila terjadi kelemahan atau rusak pada katup ini maka akan menyebabkan penumpukan darah pada pembuluh tersebut dan menyebabkan pembuluh vena melebar. Hal ini bisa ditandai dengan menonjolnya pembuluh darah yang berkelok-kelok berwarna ungu atau biru gelap.

Read more

Yang Mematikan Dalam Diam

07 July 2020

Penyakit Hipertensi sering kali disebut the silent killer karena sebagian besar penderitanya tidak mengalami gejala, sehingga tidak menyadari bahwa tubuhnya telah terkena hipertensi. Dalam beberapa kasus, penderita baru mengetahuinya setelah terjadi komplikasi seperti nyeri dada, sesak, kelumpuhan, dll.

Read more

Apakah Epilepsi penyakit kutukan?

29 June 2020

Epilepsi atau masyarakat banyak menyebutnya ayan merupakan gangguan yang terjadi pada sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik yang abnormal. Epilepsi bisa menimbulkan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak normal, sampai kehilangan kesadaran. Epilepsi juga merupakan salah satu penyebab terbanyak morbiditas di bidang saraf anak, yang berdampak terhadap tumbuh-kembang anak.

Read more