Rhinitis Alergi

Rhinitis Alergi

23 September 2021

Rhinitis alergi adalah peradangan yang terjadi di dalam hidung, tepatnya membran nasal karena alergen, atau bahan-bahan yang dapat menyebabkan alergi. Bahan-bahan ini dapat berupa debu, serbuk dari, hingga kulit dari binatang tertentu. 

Meskipun rhinitis alergi tidak mengancam nyawa, tapi penyakit ini akan menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Di Indonesia rinitis dialami oleh 10-20% populasi. Gejala yang dapat terjadi meliputi bersin-bersin; gatal pada hidung, mata, telinga; hidung meler; mengalirnya cairan ke belakang mulut dari hidung; kongesti; anosmia; nyeri kepala; nyeri telinga; mata merah; mata bengkak; lelah; dan pusing.

Hal ini terjadi karena inflamasi pada membran mukosa, hal ini berawal dengan interaksi mediator peradangan yang dipicu oleh Imunoglobulin E (IgE). IgE ini dipicu oleh alergen. Setelah 8 jam, mediator ini akan memicu sel-sel peradangan lain sehingga terjadi peradangan berlanjut. 

Berdasarkan sifatnya, rhinitis alergi terbagi menjadi intermiten (gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu) dan persisten (gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu). Sedangkan, berdasarkan berat ringannya, terbagi menjadi rinitis alergi berat (satu atau lebih gangguan) dan ringan (tidak ditemukan gangguan tidur, aktivitas harian, olahraga, belajar bersantai, bekerja, dan lain-lain).

Tatalaksana yang dapat dilakukan untuk rhinitis alergi terbagi menjadi 4, yaitu kontrol lingkungan, manajemen farmakologi, pembedahan, dan imunoterapi. Kontrol lingkungan meliputi menghindari zat-zat alergen. Untuk manajemen farmakologi, dapat dilakukan pemberian antihistamin, dekongestan, dan kortikosteroid. Untuk pengobatan imunoterapi digunakan pada kondisi yang parah, tidak memberikan respon pada pengobatan, dan terdapat komplikasi. Apabila dibiarkan, rinitis alergi dapat berkembang menjadi polip hidung, otitis media efusi, dan rinosinusitis.

Rinitis Alergi juga dapat menyebabkan Obstructive Sleep Apnea (OSA). Hal ini karena terjadi penurunan volume hidung. Selain itu, pasien dengan Rinitis Alergi saat tidur akan membuka mulutnya, sehingga lidah akan jatuh ke belakang dan dapat menyebabkan OSA.



  1. Jean B et al. Allergic Rhinitis. [Junral] US: Nature Reviews Disease Primers; 2020
  2. ARIA: Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma Classification
  3. Rafi M, Adnan A, Masdar H. Gambaran rinitis alergi pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Riau angkatan 2013-2014. Jom FK. 2015 Oct;2(2):1–11.

Hindari Computer Vision Syndrome (CVS), Jaga Kesehatan Mata Saat Work From Home

21 October 2021

Selama pandemi, orang-orang dituntut untuk mengerjakan pekerjaannya dari rumah, membuat seseorang harus menatap layar dalam waktu yang sangat lama. Namun, melihat layar dalam waktu panjang, terutama saat work from home dapat menyebabkan kelelahan pada mata.

Read more

Waspadai Osteoporosis yang Diam-diam Merusak Tulangmu!

14 October 2021

Osteoporosis merupakan kondisi ketika tulang menurun kekuatannya, sehingga mudah patah. Osteoporosis juga sering disebut sebagai keropos tulang. Di seluruh dunia, 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki mengalami osteoporosis. Di seluruh dunia, setiap 3 detiknya, satu orang mengalami patah tulang karena osteoporosis. Di Indonesia, 2 dari 5 penduduk Indonesia berisiko mengalami osteoporosis.

Read more

Psikosis, Mengapa Bisa Terjadi?

07 October 2021

Psikosis adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kontak dengan realita yang ada. Hal tersebut menyebabkan seseorang melihat, mendengar, mencium, merasakan sesuatu yang tidak ada (halusinasi) dan mempercayai hal-hal yang tidak benar (delusi). Ya, gejala dari psikosis terdiri atas dua gejala yaitu halusinasi dan delusi.

Read more