Psikosis, Mengapa Bisa Terjadi?

Psikosis, Mengapa Bisa Terjadi?

07 October 2021

Psikosis adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kontak dengan realita yang ada. Hal tersebut menyebabkan seseorang melihat, mendengar, mencium, merasakan sesuatu yang tidak ada (halusinasi) dan mempercayai hal-hal yang tidak benar (delusi). Ya, gejala dari psikosis terdiri atas dua gejala yaitu halusinasi dan delusi. 

Pada halusinasi, seseorang akan mendengar, mengecap, melihat, hingga merasakan hal-hal yang tidak dialami oleh orang lain, dan tidak terjadi. Namun, bagi seseorang yang mengalami halusinasi, hal tersebut terasa sangat nyata. Halusinasi terbagi menjadi auditori (pendengaran), visual (penglihatan), olfaktori (penciuman), somatosensorik (persepsi organ tertentu), dan taktil (sentuhan). 

Sedangkan, pada delusi seseorang akan mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi, seperti kepercayaan bahwa seluruh orang akan melukainya, atau kepercayaan bahwa orang-orang jatuh cinta kepadanya, hingga kepercayaan bahwa ia merupakan agen FBI yang disiarkan di suatu TV nasional. Delusi terdiri atas delusi grandiose (meyakini dirinya tuhan), erotomania (meyakini orang-orang jatuh cinta kepadanya), infedelitas (cemburu tanpa sebab), somatik (meyakini penyakit tertentu), persekusi (seseorang mengejar dan akan menyakitinya), bizarre (aneh), rujukan (percaya tingkah laku orang berhubungan dan akan mencelakai dirinya), kontrol (merasa pikirannya dikontrol seseorang), infestasi (percaya dirinya terinfeksi kutu), dan nihilistik (percaya dunia akan kiamat).

Psikosis merupakan gejala, bukan penyakit. Gejala psikosis bisa terjadi pada penyakit mental seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan depresi. Psikosis juga dapat dipicu dengan kejadian traumatik, stres, penyalahgunaan obat-obatan, alkohol, efek samping pengobatan, hingga tumor otak. Psikosis juga memiliki faktor risiko genetik, dimana apabila terdapat gen tersebut, risiko terjadinya psikosis meningkat. Meski begitu, bukan berarti apabila gen tersebut tidak ada, psikosis tidak akan terjadi.

Sebelum gejala psikosis terjadi, biasanya terjadi tanda psikosis. Tanda psikosis meliputi menurunnya performa belajar atau pekerjaan, tidak bisa berpikir jelas dna berkonsentrasi, mudah curiga kepada orang lain, tidak merawat diri dan mengabaikan higienitas, lebih sering menyendiri daripada biasanya, emosi yang tidak terkendali hingga tidak memiliki emosi sama sekali. Apabila mengalami gejala psikosis atau tanda psikosis, dianjurkan untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan, hal ini dikarenakan semakin cepat dimulainya pengobatan akan penyembuhan akan semakin efektif. Pengobatan yang akan diberikan pada pasien dengan psikosis meliputi konsumsi obat, terapi psikologis, hingga dukungan sosial. Psikosis tidak boleh dibiarkan, hal ini karena orang dengan psikosis memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri dan menyakiti diri sendiri.

 

 

Sumber

  1. Kusumawardhani AAAA. Buku ajar psikiatri. 2nd ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014. p. 410-27.
  2. Arciniegas DB. Psychosis. USA: NCBI; 2015.

Kenali Berbagai Macam Infeksi Menular Seksual dan Bagaimana Mencegahnya!

02 December 2021

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Semua teknik hubungan seksual baik melalui vagina, dubur, atau mulut baik berlawanan jenis kelamin maupun dengan sesama jenis kelamin bisa menjadi sarana penularan penyakit kelamin.

Read more

Kekerasan Terhadap Perempuan: Apa Yang Harus Dilakukan dan Bagaimana Mencegahnya?

25 November 2021

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap ??tindakan publik atau pribadi dari kekerasan berbasis gender yang telah mengakibatkan, atau kemungkinan besar dapat mengakibatkan, kesengsaraan atau penderitaan perempuan, baik secara fisik, seksual, dan/atau psikologis. Sebanyak 1 dari 5 perempuan yang berusia 15-64 tahun mengalami kekerasan setiap tahunnya di Indonesia.

Read more

Mengenal Global Developmental Delay (Keterlambatan Perkembangan Umum) Pada Anak

18 November 2021

Perkembangan buah hati adalah hal yang paling di nantikan oleh para orang tua. Namun seringkali orang tua tidak menyadari ketika buah hatinya mengalami keterlambatan perkembangan. Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan pencapaian perkembangan tiap anak berbeda, sehingga seringkali terjadi perbedaan perkembangan di antara anak yang seusia. Pada umumnya anak memiliki pola perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Pada artikel ini, kita akan membahas lebih banyak mengenai Global Development Delay atau Keterlambatan Perkembangan Umum Pada Anak.

Read more