Osteoporosis, Si Silent Disease yang Mengancam Masa Tua

Osteoporosis, Si Silent Disease yang Mengancam Masa Tua

21 October 2019

Sahabat Permata,menjaga tulang seperti menjaga investasi masa tua. Kenapa? Karena aktivitas kita di masa tua ditentukan oleh sehat atau tidaknya keadaan tulang kita. Untuk tetap aktif bergerak, berolahraga di masa tua membutuhkan tulang yang kuat, tidak rapuh dan  tidak mudah patah.

Namun, realitanya kesehatan tulang ini seringkali diabaikan oleh kita. Osteoporosis terjadi secara bertahap dalam beberapa tahun tanpa gejala yang jelas. Biasanya baru terdeteksi setelah mengalami kerusakan tulang. Tidak akan terasa sakit kecuali terjadi keretakan pada tulang.

Ostereoporosis atau kerap disebut sebagai penyakit tulang keropos, dapat didefinisikan sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang hingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Kejadian penyakit terus meningkat setiap saat, berdasarkan data global, saat ini ada 200 juta lebih penderita Osteoporosis di seluruh dunia. Di Indonesia, data ini tidak kalah dari data secara global, dimana 19.7% dari seluruh penduduk Indonesia menderita Osteoporosis. Di Indonesia, satu di antara tiga wanita di atas usia 50 tahun menderita Osteoporosis, satu di antara lima pria di atas 50 tahun menderita Osteoporosis dan dua dari lima orang beresiko menderita terkena penyakit Osteoporosis. Tingginya penderita Osteoporosis di Indonesia berkaitan dengan jumlah perokok yang tinggi di negara kita.

Faktor Resiko

Tingginya angka penderita ini terkait dengan beberapa faktor resiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang menderita Osteoporosis. Berikut adalah faktor – faktor resiko yang berperan.

  1. Usia

Bertambahnya usia berpengaruh terhadap resiko osteoporosis. Terlebih pada wanita yang pada usia tua akan mengalami menopause. Menopause terjadi akibat kadar esterogen dalam tubuh yang menurun sehingga menyebabkan proses menstruasi akan berhenti. Rendahnya esterogen berhubungan dengan regulasi mikro di tulang yang berubah, berujung pada turunnya kepadatan tulang.

  1. Genetik

Berdasarkan faktor genetik, diketahui bahwa ras kaukasia/oriental lebih beresiko dibandingkan ras polinesia/berkulit hitam. Berdasarkan gender, jumlah penderita lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki. Riwayat keluarga dengan Osteoporosis juga meningkatkan resiko.

  1. Lingkungan

Faktor lingkungan terkait dengan gizi (pola makan) dimana defisiensi Kalsium akan mempengaruhi kepadatan tulang. Karena Kalsium berperan penting dalam pembentukan tulang. Merokok, penggunaan alkohol, dan konsumsi obat – obatan golongan kortikosteroid juga akan menurunkan densitas/kepadatan tulang. Rokok yang mengandung nikotin akan menyebabkan terjadinya penyerapan kembali kalsium oleh ginjal, sehingga tidak jadi disimpan oleh tubuh, terkait penurunan produksi esterogen dalam tubuh dan memiliki efek menghambat pembentukan sel tulang yang baru (osteoblast).  Konsumsi kopi dan soda juga berpengaruh dalam meningkatkan resiko, karena kopi dan soda berpotensi mengurangi penyerapan kalsium dalam tubuh.

  1. Hormonal dan penyakit kronis

Keadaan hormonal terkait dengan gender dan juga usia, terutama berhubungan dengan wanita yang mengalami menopause dengan kadar esterogen yang semakin rendah akan mempengaruhi kemampuan pembentukan tulang. Penyakit kronis seperti sirosis, tirotoksikosis juga berhubungan dengan terjadinya osteoporosis.

  1. Kepadatan tulang, geometri tulang dan komposisi tulang

 

Gejala Osteoporosis

Gejala Osteoporosis tidak akan muncul kecuali ada fraktur/patah tulang atau keretakan pada tulang. Pada usia tua, diketahui bahwa 50% kejadian patah tulang panggul dapat menimbulkan kecacatan seumur hidup dan meningkatkan kematian. Pada perempuan dengan Osteoporosis, tulang mudah patah walaupun hanya cedera ringan.

Beberapa gejala yang dapat diperhatikan terkait Osteoporosis adalah :

  1. Postur bungkuk. Postur punggung bungkuk seperti pada orang lanjut usia
  2. Menurunnya tinggi badan
  3. Sering mengalami cedera atau keretakan tulang. Umumnya terjadi pada tulang belakang, pergelangan tangan atau tulang pangkal paha.
  4. Sakit punggung Biasanya penderita akan mengalami sakit punggung yang berkelanjutan dalam jangka panjang

 

Dampak Osteoporosis

Selain mempengaruhi penderita, morbiditas dari Osteoporosis tidak hanya mempengaruhi fungsi kesehatan namun juga berdampak pada aspek lain dalam hidup. Dampak penderita Osteoporosis, yakni:

  1. Faktor fisik

Bentuk atau postur mengalami perubahan menjadi lebih pendek dan bongkok

  1. Faktor psikis atau kejiwaan

Keterbatasan gerak yang dialami ketika mengalami Osteoporosis dapat mengakibatkan stress karena keinginan beraktivitas terhalang

  1. Faktor ekonomi

Keterabatasan gerak akan membatasi pekerjaan apa yang sesuai untuk pasien lakukan, dan keharusan untuk minum obat secara terus menerus, akan berdampak pada faktor ekonomi, karena obat – obatan  terkait, serta tatalaksana seperti operasi dan fisioterapi yang harus diikuti pasien setelah patah tulang akan memaksa alokasi dana yang mahal dari penghasilan / simpanan pasien.

  1. Faktor sosial

Keterbatasan gerak ketika terjadi patah tulang, dimana pasien membutuhkan orang lain untuk sekedar melakukan aktivitas ringan hingga bersosialisasi dengan sekitar.

 

Deteksi Dini

Osteoporosis seringkali terjadi asimptomatik, sehingga penting untuk dilakukan skrining diawal, untuk mengetahui apakah seseorang beresiko, atau sudah mengalami Osteoporosis. Skrining Osteoporosis dapat dilakukan dengan memeriksa kepadatan tulang menggunakan alat dual x-ray absorptiometry (DXA). Populasi atau kelompok yang dianjurkan adalah :

  1. Perempuan berusia > 65 tahun
  2. Perempuan pasca menopause berusia < 65 tahun dengan faktor resiko
  3. Laki –laki berusia > 70 tahun
  4. Dewasa dengan fraktur fragilitas (patah tulang karena kepadatan tulang yang bermasalah)
  5. Dewasa dengan resiko fraktur (patah tulang) panggul, misalnya tinggi badan dibawah 157,5 cm, berat badan <47,5 kg, riwayat merokok, riwayat ibu dengan fraktur panggul juga
  6. Dewasa dengan penyakit atau kondisi yang berhubungan dengan kepadatan tulang yang rendah (mengalami kelebihan hormone paratiroid, atau kelebihan hormone tiroid)
  7. Dewasa yang mengkonsumsi obat – obatan yang menurunkann kepadatan tulang seperti kortikosteroid, antikonvulsan, dan lainnya.

 

Tatalaksana

  1. Pencegahan 
    • Edukasi Penyakit
      • Anjuran untuk aktivitas fisik yang teratur untuk mengurangi risiko jatuh
      • Berhenti merokok, minum alkohol, serta mengangkat benda berat
      • Konsumsi diet sehat yang kaya akan nutrisi untuk tulang seperti konsumsi ikan sardine, ikan salmon, ikan teri, makanan berbahan dasar kedelai (tahu, tempe, susu kedelai), kacang – kacangan, sayuran berwarna hijau, dan buah buahan
    • Latihan fisik dan rehabilitasi

Latihan fisik teratur untuk melatih kekuatan otot dan meningkatkan remodeling tulang. Dapat digunakan ortosis, tongkat, atau alar bantu berjalan untuk orang tua yang terganggu keseimbangannya 

  1. Tatalaksana medikamentosa

Terapi yang diberikan untuk Osteoporosis, berupa :

    • Terapi subsitusi hormonal

Umumnya terapi hormonal yang diberikan pada kasus perempuan pascamenopause dengan memberikan esterogen subsitusi

    • Kalsium

Umumnya preparat kalsium yang direkomendasikan adalah kalsium karbonat.

  1. Tatalaksana Pembedahan

Sahabat Permata. menjaga tulang kita adalah investasi penting bagi kita. Memeriksakan diri bila Anda memiliki gejala yang berkaitan dengan Osteoporosis harus dilakukan sesegera mungkin. Sahabat Permata dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit kami.

RS Permata Depok 

RS Permata Bekasi 

Narasumber : dr Winda Permata Bastian, Sp.PD

Editor : dr. Nindia latwo Septipa

Referensi :

  1. Setyohadi B. Hutagalung EU. Adam J. Siryaatmadja M. Budiparama NC. Jatom SA. dkk: Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROS!). Diagnosis dan penatalaksanaan osteoporosis. Jakarta: PB PEROSI: 2010
  2. Setiyohadi B. Osteoporosis. Dalam: Setiati S. Alwi I. Sudoyo AW. Simadibrata M. Setiyohadi B. Syam AF. penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-6. Jakarta: Interna Publishing: 2014.
  3. Lindsay R. Cosman F. Osteoporosis. Dalam: Longo DL. Fauci AS. Kasper DL. Hauser SL. Jameson JL. Loscalzo J. penyuming. Harrison"s principles of internal medicine. Edisi ke- 18. New York: McGraw-Hill: 20 12.

4. World Health Organization (WHO). Prevention and manage mem of osteoporosis. WHO: Geneva: 2003


Keputihan, Apakah Selalu Normal ?

06 November 2019

Sahabat Permata, setiap wanita pasti pernah mengalami keputihan. Minimal satu kali dalam hidup pernah mengalami hal ini Di Indonesia, sekitar 80% wanita mengalami keputihan patologis (abnormal). Banyak dari wanita di Indonesia yang masih jarang memeriksakan masalah keputihan bahkan cenderung mengobati sendiri, sehingga sering kali tatalaksan tidak tepat dan memperburuk keluhan. Karena ini masalah yang sering dialami, penting sekali untuk kita tahu apakah keputihan yang kita alami adalah hal yang fisiologis (normal) atau bukan kan? Yuk, simak penjelasan lebih lanjut ya.

Read more

Menopause, Apakah itu?

16 October 2019

Setiap wanita akan mengalami satu fase dalam hidupnya dimana terjadi perubahan secara hormonal signifikan yang menyebabkan perubahan siklus menstruasi bulanan yang berhenti. Fase ini adalah fase menopause. Nah, bagaimana cara kita menghadapi menopause, apa saja tanda seseorang mengalami menopause dan apakah mungkin terjadi lebih dini? Hal - hal seputar menopause akan dibahas di artikel ini. Yuk, simak pembahasan lengkapnya.

Read more

Sering Pilek ? Yuk, Coba Cuci Hidung

01 October 2019

Sahabat Permata, rutinitas seperti menggosok gigi dua sampai tiga kali sehari atau sehabis makan dan rutinitas lainnya, bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kita. Namun, sadarkah kita terdapat satu sistem di tubuh yang selalu berhubungan dengan dunia luar dan sangat perlu dijaga kebersihan dan kesehatannya? Ya, sistem pernapasan. Bagaimana cara menjaga nya? Yuk, simak artikel ini.

Read more