Diare Pada Bayi, Apa Yang Dapat Kita Lakukan?

Diare Pada Bayi, Apa Yang Dapat Kita Lakukan?

02 September 2021

Diare terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi bayi menjadi lebih cair seperti bubur, dengan intensitas BAB lebih dari tiga kali dalam 24 jam. Diare terbagi menjadi berbagai jenis. Berdasarkan waktunya, diare terbagi menjadi diare akut, diare berkelanjutan, dan diare kronik. Sedangkan, berdasarkan mekanisme terjadinya, terbagi menjadi diare osmotik dan diare sekretorik.

Diare akut merupakan diare yang terjadi kurang dari 7 hari. Diare berkelanjutan merupakan diare yang terjadi dari kurun waktu 7-14 hari. Diare kronik merupakan diare yang terjadi lebih dari 14 hari. Umumnya, diare kronik disebabkan oleh infeksi di luar saluran cerna, yaitu meningitis maupun malnutrisi.

Sedangkan, untuk diare osmotik terjadi karena suatu substansi yang sulit diserap seperti sorbitol, laktulosa, magnesium, dan phosphorus sehingga berada pada saluran cerna, dan menarik air kembali ke lumen. Hal tersebut menyebabkan gangguan pada dinding saluran pencernaan, sehingga terjadi defek enzim, dan nutrien. Jenis ini umumnya terjadi karena intoleransi laktosa dan infeksi rotavirus. Untuk diare sekretorik, umumnya terjadi karena infeksi yang menyebabkan gangguan penyerapan NaCl pada vili usus. Hal ini berujung pada air dan elektrolit dialirkan berlebihan menuju saluran cerna.

Pertolongan yang dapat dilakukan pada bayi yang mengalami diare dilakukan berdasarkan dehidrasi yang terjadi pada bayi. Apabila tidak terjadi dehidrasi pada bayi maka dapat diberikan oralit 5-10 cc/kg setiap kali muntah ataupun diare, tetap lanjutkan pemberian ASI. Pada dehidrasi ringan-sedang (ditandai dengan gelisah rewel, haus, mata cekung, cubitan kulit kembali lambat) dapat diberikan oralit 75 cc/kg dalam 3 jam kemudian dilanjutkan dengan oralit 5-10 cc/kg setiap muntah atau diare. Apabila dehidrasi berat (ditandai dengan tidak sadar, mata cekung, malas minum, cubitan kulit kembali lambat) dapat diberikan cairan oralit dimulai dengan 5cc/kg dan dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Oralit dapat dibuat di rumah dengan cara membuat air hangat 200 ml ditambah dengan 1 sendok gula dan ¼ sendok teh garam. Namun, apabila anak mengalami profuse diarrhea  (diare >10 ml/kg/jam), muntah menetap, menolak minum, malabsorpsi glukosa, dan ileus, maka anak harus diinfus. Terjadinya dehidrasi menandakan anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemberian oralit yang tepat, zinc, nutrisi, probiotik, dan antibiotik apabila dibutuhkan.

Ibu juga harus waspada dengan tanda-tanda diare yang mematikan pada anak, meliputi: dehidrasi, sindrom disentri, diare yang semakin sering, serta diare yang tidak membaik dalam tiga hari. Diare dapat dicegah dengan konsumsi ASI, higiene yang baik (menjaga kebersihan dan mencuci tangan), sanitasi (kebersihan lingkungan dan BAB di jamban), imunisasi campak, air minum yang bersih, serta memberikan makanan yang matang.

Sumber

  1. Antonietta G, et al. Management of Children With Prolonged Diarrhea. [Journal] Italy: NCBI; 2016.
  2. Valerie N, et al. Diarrhe. [Journal] Fireland: NCBI; 2021.