Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia Pada Ibu Hamil

16 September 2021

Anemia pada ibu hamil adalah kekurangan sel darah merah atau hemoglobin pada ibu hamil dengan kadar Hb< 11 g/dL pada trimester 1, <10,5 g/dL di trimester 2, dan <11 g/dL di trimester 3. Komplikasi yang dapat disebabkan oleh anemia pada ibu hamil meliputi abruptio placenta, abortus, kelahiran prematur, dan neural tube defect.

Anemia pada ibu hamil terdiri atas berbagai macam seperti defisiensi zat besi, anemia megaloblastik, anemia akibat perdarahan akut, dan anemia penyakit kronis pada kehamilan. Umumnya, anemia pada ibu hamil disebabkan karena defisiensi zat besi. Hal tersebut dikarenakan pada ibu hamil kebutuhan zat besi meningkat sampai 1000 mg. Pencegahan untuk anemia ini adalah dengan mengonsumsi suplemen zat besi, dan fortifikasi zat besi pada makanan.

Sedangkan, untuk Anemia Megaloblastik, disebabkan oleh defisiensi Vitamin B12, defisiensi asam folat, gangguan metabolisme folat kongenital, gangguan sistem pencernaan (seperti celiac disease, short bowel syndrome, dan peningkatan pH pada aklorhidria). Anemia akibat perdarahan akut juga dapat ditemukan pada ibu hamil. Perdarahan pada trimester 1 disebabkan oleh abortus, mola hidatidosa, dan kehamilan ektopik. Sedangkan, pada trimester 2 disebabkan oleh abortus. Untuk trimester 3 disebabkan oleh plasenta previa, solusio plasenta, dan plasenta akreta. Perdarahan juga dapat terjadi setelah persalinan.

Pada anemia penyakit kronis, disebabkan oleh infeksi dan gagal ginjal kronik. Infeksi umumnya disebabkan oleh infeksi cacing seperti ascaris lumbricoides, trichuris trichuria, dan cacing tambang. Infeksi juga dapat disebabkan oleh malaria sehingga pada daerah risiko tinggi dapat diberikan obat pencegahan sulfadoxine-pyrimethamine. Ibu dengan HIV juga biasanya mengalami anemia jenis penyakit kronis.

Gejala yang muncul pada ibu hamil meliputi:

  1. Lelah
  2. Nyeri kepala
  3. Kulit kekuningan
  4. Debar jantung ireguler
  5. nyeri dada
  6. tangan dingin
  7. Pusing
  8. Keram
  9. Insomnia

Tatalaksana anemia sesuai dengan tipe anemianya. Apabila anemia yang terjadi adalah defisiensi zat besi, maka dapat diberikan suplementasi zat besi. Sedangkan apabila anemia karena defisiensi asam folat atau vitamin B12, maka dapat diberikan asam folat dan vitamin B12. Jika penyebabnya adalah perdarahan, maka yang dilakukan adalah mengontrol perdarahan. Apabila disebabkan oleh infeksi, maka dilakukan pengobatan untuk infeksi. Apabila kadar Hemoglobin sudah sangat rendah, maka dapat diberikan transfusi darah.

Sumber:

  1. Cunningham F, Leveno K, Bloom S, Dashe J, Hoffman B, Casey B, et al. Williams Obstetrics. 25th ed. New York: McGraw-Hill; 2018.
  2. Hoffbrand A, Moss P. Essential haematology. Chichester, West Sussex: Wiley Blackwell; 2015.
  3. World Health Organization. Buku saku pelayanan kesehatan ibu dan anak di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. Jakarta: Kemenkes; 2013.
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah

Hindari Computer Vision Syndrome (CVS), Jaga Kesehatan Mata Saat Work From Home

21 October 2021

Selama pandemi, orang-orang dituntut untuk mengerjakan pekerjaannya dari rumah, membuat seseorang harus menatap layar dalam waktu yang sangat lama. Namun, melihat layar dalam waktu panjang, terutama saat work from home dapat menyebabkan kelelahan pada mata.

Read more

Waspadai Osteoporosis yang Diam-diam Merusak Tulangmu!

14 October 2021

Osteoporosis merupakan kondisi ketika tulang menurun kekuatannya, sehingga mudah patah. Osteoporosis juga sering disebut sebagai keropos tulang. Di seluruh dunia, 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki mengalami osteoporosis. Di seluruh dunia, setiap 3 detiknya, satu orang mengalami patah tulang karena osteoporosis. Di Indonesia, 2 dari 5 penduduk Indonesia berisiko mengalami osteoporosis.

Read more

Psikosis, Mengapa Bisa Terjadi?

07 October 2021

Psikosis adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kontak dengan realita yang ada. Hal tersebut menyebabkan seseorang melihat, mendengar, mencium, merasakan sesuatu yang tidak ada (halusinasi) dan mempercayai hal-hal yang tidak benar (delusi). Ya, gejala dari psikosis terdiri atas dua gejala yaitu halusinasi dan delusi.

Read more