Puasa Ramadhan untuk Pasien Diabetes, Bolehkah?

Puasa Ramadhan untuk Pasien Diabetes, Bolehkah?

04 June 2018

Diabetes Melitus atau sering disebut dengan penyakit gula merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh kekurangan insulin secara absolut ataupun relatif. Insulin merupakan hormon yang bertanggung jawab memasukan gula ke dalam otot dan hati sebagai glikogen (cadangan gula). Pada orang sehat, insulin bekerja karena distimulasi oleh makan (kadar gula dalam darah yang tinggi). Saat puasa, kadar gula dalam darah rendah, sehingga  insulin kurang terstimulasi. Akibatnya, hormon lain bernama glukagon terstimulasi untuk bekerja. Glukagon bertugas untuk memecah glikogen (cadangan gula) menjadi gula, sehingga kadar gula dalam darah tercukupi sebagai sumber energi.  Selain itu, proses glukoneogenesis atau proses produksi gula dalam tubuh juga terjadi. Jika cadangan gula sudah habis dipecah oleh glikogen, tubuh akan memecah sumber energi lain, yaitu lemak. Proses pembakaran lemak ini, menghasilkan badan keton dalam tubuh kita.

Amankah Pasien Diabetes Berpuasa?

Pada pasien Diabetes,  proses regulasi oleh insulin dan glukagon yang sudah dijelaskan sebelumnya tidak berjalan sempurna, sehingga berisiko menyebabkan beberapa kondisi, diantaranya:

  1. Hipoglikemia (gula darah rendah)

Hipoglikemi terjadi akibat asupan makanan yang terbatas saat puasa. Dari penelitian EPIDIAR, dikatakan pasien Diabetes tipe II, berisiko 7.5 kali lebih tinggi mengalami hipoglikemi dibanding individu sehat.

  1. Hiperglikemi (gula darah tinggi)

Kondisi hiperglikemi dapat terjadi akibat berkurangnnya frekuensi konsumsi obat Diabetes saat puasa.  Selain itu, kondisi ini juga disebabkan oleh konsumsi makanan manis yang berlebihan serta tinggi kalori saat sahur ataupun berbuka. Dari penelitian yang sama, pasien Diabetes tipe II  berisiko 5 kali lebih besar mengalami hiperglikemi dibanding individu sehat.

  1. Diabetes ketoasidosis (tingginya keton dalam tubuh pasien Diabetes)

Kondisi ketoasidosis lebih sering terjadi pada pasien yang tidak terkontrol kadar gulanya sebelum bulan ramadhan. Selain itu, kondisi ini juga rentan terjadi pada pasien yang mengalami pengurangan dosis baik obat minum ataupun insulin karena menyesuaikan asupan makanan yang sedikit saat puasa.

  1. Dehidrasi

Dehidrasi terjadi akibat kurangnya asupan cariran saat puasa. Selain itu, kondisi hiperglikemi pada pasien Diabetes menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil, sehingga pasokan air dalam tubuh semakin berkurang. Karena dehidrasi, hipotensi orthostatik mudah terjadi. Pada hipotensi orthostatik, Anda akan merasakan sensasi pingsan saat berubah posisi, dari duduk ke berdiri, misalnya.

Siapa Saja yang Berisiko?

Terdapat beberapa kondisi pada pasien Diabetes tipe II yang meningkatkan risiko terjadinya hal-hal di atas. Kondis tersebut di antaranya:

  1. Riwayat hipoglikemia berat dalam 3 bulan sebelum Ramadhan, berulang, ataupun disertai dengan pingsan
  2. Kontrol gula yang buruk
  3. Riwayat mengalami ketoasidosis dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
  4. Diabetes tipe 1
  5. Sedang mengalami penyakit akut
  6. Melakukan aktivitas fisik yang intens
  7. Kehamilan
  8. Gangguan ginjal serta sedang menjalani cuci darah
  9. Usia tua dengan kondisi kesehatan menurun

Jika Anda tidak mengalami kondisi-kondisi di atas, Anda boleh menjalani ibadah puasa Ramadhan bersama keluarga Anda.

Bagaimana Tips Agar Pasien Diabetes tetap Bisa Berpuasa Ramadhan Secara Sehat?

  1. Konsultasikan keinginan Anda untuk berpuasa kepada dokter keluarga Anda sehingga dokter akan memeriksakan kondisi kesehatan Anda secara komprehensif serta menyesuaikan dosis obat Diabetes Anda
  2. Monitor gula darah minimal 2 kali sehari
  3. Berbuka puasa dengan menghindari mekanan tinggi karbohidrat dan lemak . Saat berbuka sebaiknya Anda tidak langsung makan dalam 1 porsi besar, melainkan membagi makanan Anda menjadi 2-3 porsi kecil agar terhindar dari hiperglikemi setelah berbuka.
  4. Saat sahur, sebaiknya memilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, bukan karbohidrat sederhana karena dicerna lebih lambat serta lebih lama menahan kenyang.
  5. Tetap beraktivitas fisik teratur namun tidak berlebihan. Hindari aktivitas fisik berlebihan terutama sebelum berbuka karena risiko hipoglikemia lebih besar. Jika Anda ingin melakukan aktivitas fisik, sebaiknya 2 jam setelah berbuka.
  6. Segera berbuka dan tunda puasa jika gula darah di bawah 70 mg/dL atau lebih dari 300 mg/dL
  7. Tunda keinginan untuk berpusa jika Anda merasa sedang tidak fit

 

Bagaimana? Tidak sulit bukan? Dengan tips di atas, semoga Anda dan keluarga tetap bisa beribadah dengan sehat dan aman. Selamat berpuasa!

 

Editor: dr. Ruby Aurora PW Kuntarto

 

Sumber:

Al Arouj M,  Khalil SA,  Buse J,  Fahdil I,  Fahmy M,  Hafez S, Hassanein M, et al.  Recommendations for management of Diabetes during Ramadan. Diabetes Care. 2010 Aug; 33(8): 1895–1902.


DI HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA INI, YUK LAKUKAN DIGITAL DETOX!

15 October 2018

Di zaman kekinian, tidak bisa dipungkiri bahwa smartphone yang canggih dengan berbagai aplikasi dan kemampuannya untuk menghubungkan kita ke dunia online telah menjadi teman kita sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, di sela-sela jam belajar atau jam bekerja, hingga sebelum tidur. Berbagai macam informasi terkait edukasi, hubungan pertemanan, dan hiburan memang sangat banyak ditawarkan lewat akses smartphone, tetapi tahukah Anda bahwa terlalu lama dan terlalu banyak menggunakan smartphone dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan jiwa Anda?

Read more

CT-Scan, Alat Pemeriksaan Canggih untuk Pengobatan yang Lebih Cepat dan Tepat

08 October 2018

Apa saja kegunaan dan manfaat pemeriksaan dengan CT-Scan? Seberapa membantu kah gambaran hasil pemeriksaan CT-Scan terhadap diagnosis Dokter? Dan apa saja hal-hal yang harus diketahui oleh pasien sebelum melakukan pemeriksaan CT-Scan?

Read more

Lakukan Hal Ini dari Sekarang untuk Masa Tua Anda yang Lebih Sehat!

24 September 2018

Bagaimana caranya kita mempersiapkan masa tua yang sehat?

Read more